Yogyakarta Tetap Istimewa

BERGABUNG TAK BERARTI MELEBUR

Pos Komando (Posko) Relawan Referendum Keistimewaan Jogjakarta Posko Relawan Referendum ini berfungsi sebagai pusat informasi bagi media massa yang ingin mengetahui macam-macam informasi terkini terkait gejolak keistimewaan Yogyakarta. Setiap ada kejadian yang genting terkait Indonesia (Jakarta) dengan Yogyakarta dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan daerah ini, para awak media pasti mengunjungi posko. Penampilan posko ini sangat sederhana. Sekilas ia menyerupai warung makan. Interiornya terbuka. Tidak ada alat pendingin ruangan. Di dalam ada satu unit pesawat televisi berukuran 21 inci. Beberapa unit kursi terbuat dari kayu yang memanjang. Dinding ruangannya dipenuhi stiker, bendera, banner, dan banyak informasi tentang keistimewaan Yogyakarta. Di antara artikel-artikel pemberitaan media, terdapat isi piagam ijab qabul antara Hamengkubuwono IX dengan Soekarno dan foto para raja negara Kerajaan Ngajogjakarta Hadiningrat yang dipigura dengan rapi. “Simbol ini perlawanan kami memerangi kezaliman yang dilakukan pemerintah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia-red) terhadap Keraton Ngajogjakarta,” ujar Koordinator Posko Induk dari Komite Independen Pengawal referendum (KIPER), Wiwin Winarto. Perlawanan dengan Seni Rupa Macam-macam simbol yang muncul dari perlawanan rakyat Yogyakarta terlihat dari dipasangkannya spanduk dengan beragam tulisan. Sebut saja “Referendum”, “Konsisten Ijab Qabul”, “Penetapan Berbasis Ijab Qabul”, “Bergabung Tak Berarti Melebur”, isi kesepakatan antara Sultan Hamengkubuwono IX dengan Soekarno, sampai hasil-hasil survei yang dikeluarkan intitusi pendidikan swasta akan harga mati atas keistimewaaan Yogyakarta. Di banyak tempat di kawasan pusat kota Jogjakarta, seperti di keraton, nol kilometer, atau Malioboro, bendera Keraton Ngayogyakarta dengan tulisan “Penetapan” juga berkibar-kibar. Melihat fenomena ini, pemikir budaya visual dari Yogyakarta, Sumbo Tinarbuko, menyebutkan bahwa menggunakan simbol sebagai bahasa perlawanan adalah sesuatu yang cerdas, berbudaya dan sangat efektif untuk diterapkan. “Muncul kesadaran identitas ketika bahasa simbol digunakan. Indonesia kaya dengan simbol. Tiap budaya lokal pasti punya simbolnya,” kata Sumbo. Sumbo Tinarbuko pun mencatat bahwa perlawanan sebetulnya tidak saja dilakukan dengan mengunakan simbol. Sebab, sebelum kemunculan simbol-simbol ini, masyarakat seringkali melakukan perlawanan dengan kirab budaya atau memamerkan ke publik atas produk budaya yang ada di keraton, entah itu baju, senjata, atau hal-hal yang terkait tradisi. Sebelum itu, ada juga perlawanan yang dilakukan melalui topopepe, yakni orang yang bertapa di atas batu sambil menghadap ke matahari. Perkembangan ini menunjukkan bahwa ada peningkatan perlawanan hingga pada tahap sekarang, yakni menggunakan spanduk provokasi dan berlanjut ke senjata. “Artinya, perlawanan dimulai dahulu dari simbol terhalus sampai ke yang kasar. Semangatnya adalah untuk mendapatkan sesuatu harus dengan proses yang panjang agar hasil yang didapat maksimal. Ingin melakukan hal yang besar, lakukanlah dengan kebesaran (cara yang cerdas-red). Gerakan yang tertata rapi, cerdas bukan dengan okol (otot-red) tetapi dengan akal,” ujar Sumbo yang juga kandidat gelar Doktor Ilmu Budaya dari Universitas Gajah Mada ini. Hal senada juga diamini oleh Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Yogyakarta, Umar Hadi. “Perlawanan dimulai dari spanduk dengan kata-katanya (verbal), terus muncul ikon manusia seperti, tokoh Abdi Dalem dan Gatot Koco (visual). Artinya, dalam tataran ini, masih ada upaya untuk negosiasi, masih bisa dirembuki lagi. Tetapi, ketika simbol itu tidak menemui solusi bisa jadi deadlock. Maka akan muncul perlawanan yang lebih besar,” kata Umar. Bahasa perlawanan yang terus bergeser hingga ke simbol senjata menunjukkan adanya peningkatan emosi rakyat. Senjata adalah simbol yang paling keras terhadap sebuah perlawanan. Jika senjata sudah dikibarkan, berarti sudah mengajak untuk perang. Terjadi jalan buntu yang tidak bisa di negosiasi lagi. “Bisa jadi setelah ikon senjata ini muncul, akan ditingkatkan dengan kehadiran simbol senjata yang berdarah-darah. Wah, itu lebih tinggi lagi emosi masyarakat untuk mempertahankan tingkat keistimewaan Yogya. Sampai titik darah penghabisan, pasti tetap dipertahankan,” tambah Umar memaknai kemunculan simbol tersebut. Meski demikian, Sumbo member catatan mengenai penggunaan simbol-simbol sebagai medium perlawanan. Menurutnya, bahasa yang digunakan sebagai perlawanan sebaiknya diturunkan ke bahasa anak muda. Demikian juga dengan tampilan visualnya. Penggabungan antara bahasa verbal (teks) dan visual (rupa) juga akan lebih efektif. “Bahasa verbal dan visual yang dipakai sekarang cenderung klasik, dan mungkin tak begitu disukai kaum muda,” tukas Sumbo yang juga penulis buku “Semiotika Komunikasi Visual” ini. Dalam buku katalog pameran seni rupa The Highlight: Dari Medium Ke Transmedia (2008) yang ditulis oleh Sumbo Tinarbuko, ada sejumlah ciri karya komunikasi visual yang mampu menjadi penanda kebudayaan. Ciri tersebut ditandai dengan karya tersebut yang mampu tampil atraktif, komunikatif, dan persuasif. Di samping itu, karya komunikasi visual juga harus dapat mencerdaskan masyarakat terkait pesan yang ingin disampaikan dan keberadaannya harus bisa diterima masyarakat luas. Taat mengikuti perilaku adat istiadat yang berlaku, menjunjung tinggi moralitas, dan mengedepankan kearifan lokal juga menjadi poin penting dari suatu karya rupa. Medium komunikasi visual khas Yogyakarta ini pada akhirnya menegaskan suatu kedaulatan kultural yang merujuk pada jejak sejarah kedua entitas, Ngajogjakarta dan Republik Indonesia, bahwa “Bergabung Tak Berarti Melebur”.
Sumber: (Facebook BENDOT-Fidel Sastroe )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s